12 July 2014

Ngalur-ngidul

Saya rindu menulis, menulis yang bukan sekedar menulis. Tapi menulis yang datang dari dalam hati. Sekarang, hampir setiap hari saya menulis, memang sebagian besar masih mengalir dari dalam hati. Tapi sudah jarang yang mengalir dari hati melalui perenungan. Saya rindu bergegas membuka laptop ketika sampai rumah dan meluncur menuangkan emosi, perasaan dan perenungan melalui tulisan.

Saya rindu membaca, saya rindu waktu-waktu luang di tengah malam di mana saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca rentetan huruf yang berdempetan itu. Sekarang saya membaca, namun lebih banyak membaca pekerjaan semata.

Saya rindu meluangkan waktu untuk bertanya 'hai, apa kabar?' kepada seorang teman, kepada beberapa teman dekat. Sekarang mendadak plegmatis saya meningkat begitu tinggi. Mungkin berlebihannya, saya sedang agak... tidak ingin mengetahui kisah hidup orang lain terlalu banyak dan sebaliknya, saya sedang terlalu cuek untuk bercerita tentang kehidupan saya.

Pernah dengar istilah 'if they care enough to you, they will be there no matter what.' Dulu saya ada di posisi korban, dimana saya merasa sangat benar, jika kamu peduli, kamu akan SE-LA-LU ada kalau saya cari, saat itu juga. Sekarang, bisa dibilang saya ada di posisi tersangka. Ternyata untuk menjadi 'selalu ada' untuk orang lain itu berat. Apalagi jika kamu punya segudang pekerjaan untuk diselesaikan, segudang pikiran yang harus dibenarkan dan berentetan masalah berbenturan ego dengan beberapa orang lain yang harus diluruskan.

Beberapa waktu lalu saya kembali catch up dengan seorang teman dekat yang sudah lama tak bersua. Biasa saya akan update kisah hidup saya belakangan, kesibukkan yang saya alami, kekesalan yang saya pendam dan semuanya. Namun kemarin itu saya hanya bisa berkata 'males ah, kebanyakan...' dan kami berakhir menghabiskan waktu dengan makan dan haha hihi tak karuan. 

Saya rindu menghabiskan waktu di atas ranjang malam hari, memikirkan apa yang hari itu sudah saya lakukan. Memikirkan bagaimana baiknya Tuhan itu. Namun hari-hari ini saya lebih sering tertidur pulas dengan lampu masih menyala, hape masih tergeletak dan kasur yang masih terbentang rapi alias saya ketiduran. 

Yeah. Kadang saya rindu masa-masa saya menganggur dan dapat melakukan berbagai hal yang saya pikir baik untuk dilakukan. Namun jika saya kaji ulang.. hey, itu namanya saya tidak bertumbuh donk kalau kerjaan saya hanya makan-tidur-nonton. Kalau saya punya banyak waktu menganggur, itu namanya hidup saya tidak produktif toh? 

Memang selalu ada hal-hal yang bisa disyukuri meski semua terlihat butek. Teman-teman yang sabar mengerti keadaanmu, makanan enak yang selalu ada jika kamu beruntung (seperti soto daging pagi ini), dan juga rekan-rekan kerja yang menamai dirinya 'cewe kece tanpa pian' yang berhasil menjadi teman haha-hihi. Ya, selalu ada koq hal-hal yang bisa disyukuri.

*btw, update.. my baby was born... namanya Satu Hari Satu, and yes... it's a book! hihi.. we worked in team sih, just so happy aja finally my name was printed as a writer meski bekerja dengan air mata dan emosi. Saatnya menorehkan nama di buku-buku lainnya* (photo courtesy of vania amanda)



*ps: tolong tetap bantu doa retreat EXPANDED yang bakal held on 29 - 31 July. Pikiran dan perasaan saya mulai hampir terkuras untuk ini :") (currently listening to Broken Vessels by Hillsong)

4 comments:

priscila stevanni said...

Tiiin, baca tulisan kamu yang ini and pretty much I can feel you :") keep being grateful in the middle of your struggle yah.. Dan selamat buat buku barunya! :D Bukunya dijual dimana? hehe

jerrytrisya said...

Wow bisa bersamaan nulis posting dengan theme yang hampir sama on our blog. Maybe ini tema yang lagi banyak dialami orang ?

You're not alone for sure, and the cure for it lies not in ourselves, but in others. Thks Teen!

JERRYTRISYA

christine natalia said...

Huhu.. :') thank youuu pris.. ;') dijual di toko buku gerejaa nya hahahaa..

christine natalia said...

Hahaha mayb.. :') yes! Thank you for dropped by and give encouragement :D