16 January 2013

Dampak sebuah tatapan


Beberapa hari yang lalu saya sedang berkeliling mall untuk menunggu dijemput, ketika sedang beranjak ke toilet, sesuatu menangkap perhatian saya, seorang lelaki yang sudah lumayan berumur melintas di depan saya. Bukan, bukan karena ia ganteng, bukan juga karena ia menggandeng wanita cantik, tapi karena ia memakai kursi roda yang cukup canggih. Kursi roda yang bisa dikendalikan otomatis dengan tangan, seperti layaknya bermain mobil-mobilan dengan remote control.

Saya berusaha untuk tidak melihat pria itu terlalu lama, agar tidak tertangkap olehnya saya sedang menatapnya. Kemudian saya teringat ucapan seorang teman yang beberapa waktu sempat menggunakan tongkat karena otot kakinya sempat robek. Bahkan ia sempat enggan memakai tongkat dan memaksa diri untuk jalan seperti biasa hanya karena ia tidak suka dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Ia merasa risih setiap kali ia jalan menggunakan tongkat, orang menatapnya seolah berkata kasihan padanya (ini katanya).

Kembali ke pria dengan kursi roda canggih itu, saya menatapnya bukan karena kasihan, saya menatapnya, refleks karena saya melihat kursi rodanya canggih. Dan setelah pria itu pergi, saya kemudian tertegun dan merasa bersyukur saya masih memiliki kaki yang sempurna untuk berjalan sendirian tanpa bantuan apapun.

Teringat teman saya yang risih dengan pandangan orang lain kemudian saya berpikir… Lalu kenapa kalau orang lain melihat dengan tatapan kasihan? Lalu kenapa kalau orang lain mempersilahkan seseorang yang menggunakan tongkat atau kursi roda berjalan dahulu? Lalu kenapa? Kenapa harus risih? Kenapa harus tersinggung?

Melarang mereka untuk menatap kita? Tentu itu melanggar hak asasi manusia. Memaksakan diri sendiri untuk tidak menggunakan alat bantu jalan padahal kita membutuhkannya? Jelas itu hanya merugikan diri sendiri.

Selagi menulis tentang ini, saya teringat seorang ibu paruh baya yang selalu datang ke gereja dengan suaminya yang duduk di kursi roda, dan anaknya yang….. kurang normal. *pernah saya ceritakan DISINI*. Anak si ibu itu, ketika sedang kebaktian, tiba-tiba bertepuk tangan sendiri, tiba-tiba teriak sendiri ketika yang lain sedang khusuk mendengarkan kotbah. Hampir semua mata pernah memandang ke arah ibu ini, tatapan kasihan, sinis, merasa terganggu, dan sedih, semua jenis tatapan itu pernah dilayangkan ke ibu ini. Tapi ibu ini tetap cuek, dia selalu datang tiap minggu, duduk di barisan kursi paling depan, membawa suaminya (yang sekarang sudah meninggal) dan anaknya untuk duduk di sebelahnya, paling depan! Ia tidak peduli apa tatapan orang lain kepadanya.

Saya? Saya pernah menatap ibu ini dan anaknya dengan pandangan iba, pernah juga dengan pandangan kaget karena tiba-tiba si anak teriak dengan nyaring. Namun kemudian, pandangan saya berubah…. Saya bersyukur, saya sempurna secara fisik. Saya bersyukur, punya keluarga normal. Tidak berarti Tuhan tidak sayang dengan si ibu ini, tapi Tuhan sedang mengajarkan kepada ratusan bahkan ribuan mata yang menatap ibu ini, untuk bersyukur.

Seperti film yang saya tonton beberapa hari lalu, Grace Card, ada satu kutipan yang sangat saya setuju. “Jangan tanya Tuhan kenapa mereka hadir dalam kehidupanmu, tapi lihat mengapa engkau hadir dihidup mereka”

Yap, dan saya setuju. Bukan bagaimana tatapan orang lain melihat kita yang berdampak untuk hidup kita. Tapi bagaimana kita yang berdampak buat hidup orang lain. Bukan kita yang dibuat down karena tatapan orang lain, karena pendapat orang lain, karena kritik orang lain, tapi orang lain yang dibuat terheran-heran karena hidup kita, orang lain yang merasa terberkati karena hidup kita.

Simpelnya, ketika kamu mungkin harus berjalan dengan tongkat, mungkin rambut kamu botak karena kemoterapi, mungkin kamu jalan sendirian di mall tanpa pacar, jangan biarkan kamu terintimidasi oleh tatapan (yang menurut kamu berarti kasihan) dari orang lain. Tapi buat mereka tercengang karena kamu berjalan dengan penuh rasa percaya diri. Buat mereka yang melihat kamu, kagum dengan keceriaan kamu, buat mereka sadar bahwa mereka harus lebih bersyukur ketika melihat kamu tidak sering mengeluh.

Bukan begitu?

*niatnya cuma mau nulis dikit aja, kenapa jadi panjang begini*
(again, lagi nganggur di kantor)

4 comments:

priscila stevanni said...

Be grateful always! Jadi pengen nonton Grace Card, hehe..

Anita Bong said...

Wah, penjelasan yg dalam :) thx for sharing :)

christine natalia said...

your most welcome :))

viryaniKHO said...

haha lucunyaaa post ini apalagi potonya :)