Showing posts with label christianity. Show all posts
Showing posts with label christianity. Show all posts

10 April 2016

Bagai Rajawali


'ku kan terbang tinggi bagai rajawali
di atas segala persoalan hidupku

dan aku percaya saat ku bersamaNya
tiada yang mustahil bagi Dia..'

As christian, you might know this song or at least ever heard even once. Masih ratusan lagu rohani lainnya bertemakan burung rajawali. Why? Karena banyak hal menarik yang bisa dipelajari lewat burung satu ini. Kegagahannya terbang di atas badai, ketajaman matanya melihat musuh, cara induk rajawali mengajari anaknya untuk terbang. You might googling it for details. Banyaaaak banget yang bisa kita teladani dari seekor burung rajawali. But hey, have you ever thought about this?

Burung rajawali kalau terbang selalu sendirian. Nggak pernah ramai-ramai kayak burung *apa namanya idk* yang mau pindah sarang. Atau kayak bebek yang mau nyebrang aja ngajak se-RT. Nope! An eagle flies alone!

Khususnya bagi temen-temen yang baru dipercayakan hal-hal baru entah di sekolah, kampus, pekerjaan and even di ministry. Pasti ada momen rasanya cuma bisa bersimbah air mata pengen lambaiin tangan dan menyerah. Bukan cuma karena beban dan tanggung jawab yang tiba-tiba bikin pundak kram. Tapi overwhelming lonely feeling yang bikin kita merasa kita sendirian, lonely and desperate.

Satu hari di saat gwe lagi merasa, ini kok kesannya cuma gwe yang lari sendirian, kerja sendirian, orang-orang dimana, gwe ikut kebaktian untuk young and professional. Pendetanya saat itu lagi kotbahin tentang Eagle Principal. Dia bilang, ketika kita merasa sendirian, it's okay. That's how an eagle flies. Justru ketika kita dipercayakan hal-hal yang lebih besar dan kita merasa lonely, somehow itu menandakan kita indeed sedang dibawa 'terbang' ke next level. Kalau kita tetap melihat 'banyak orang' di sekitar kita, itu tandanya kita belum 'terbang.'

So, if it's you, if you feel lonely these days. If you feel like giving up because you think you fight alone, don't. Tuhan lagi mau ngajarin kita to lean only on Him. Gak perlu berharap dan bersandar sama manusia. Don't blame on God, jangan salahin diri sendiri, apalagi salahin temen-temen yang terkesan meninggalkan kita. Don't. It's just another process yang bakal bawa kita lebih 'tinggi' lagi.

Dan selalu ada caranya Tuhan menghibur dan menuntun jalan kita. Percaya deh. I experience it many times. I serve as koordinator acara di youth ministry gereja gwe. And there was moments yang datang ke youth tuh sedikit, nggak lebih dari 40. It happened beberapa minggu dan sejujurnya gwe merasa, kokkkkkkk begini amat Tuhan. I was tired. Rasanya pengen nyerah dan dasar anaknya cengeng, I cried saat itu. Lihat kiri kanan yang mostly pengerja baru, gwe merasa kayak I fought all alone.

Tapi Tuhan selalu punya cara yang amazing buat menghibur, menguatkan dan mengajar anak-anakNya. Hari itu youth kedatangan 2 jemaat baru. Abis kebaktian, kita ngobrol-ngobrol and I was amazed how they ended up di youth. Yang satu, artis, cewek. Dia memang lagi cari komunitas gereja gitu, terus searching di google tentang youth service di hari Sabtu. Siang itu dia udah sampai di salah satu mall di selatan Jakarta yang dia kira ada youth di hari Sabtunya. Sampai sana, tetott.. Youth-nya ada di hari Minggu. So dia cari lagi di google dan nemu di Senayan City, so dia langsung ke senci dan datang ke youth.

Anak baru ke2, cowok. Dia abis ketemu orang di daerah senayan dan numpang ke senci untuk makan. Pas dia lagi makan di foodcourt, dia nguping pembicaraan orang di belakang dia yang bilang 'kalau lo mau ke gereja, ke atas aja, ada gereja.' dan dia iseng ke lantai 9 dan nemu gereja.

I was amazed how God brought people easily to youth. Gwe saat itu tertegur dan terhibur. Tuhan kayak lagi 'puk-puk' in gwe sambil ngajarin kalau 'it's not about your strength or your power, kid. It's all about ME.' Percuma kita berusaha setengah mati pakai usaha dan kekuatan kita untuk mewujudkan sesuatu. Tuhan yang empunya segala sesuatu, all things belong to Him dan Dia akan dengan mudahnya mewujudkan apa yang kita usahain sampai berdarah-darah if He wants.

Oke, ngelantur topiknya.

So the point is, jangan terlarut dalam kesedihan dan kekecewaan if you feel lonely hari-hari ini, apalagi ditambah beban dan tanggung jawab yang berlipat ganda. Because the truth is you don't. Ada Tuhan di sisi kita yang memampukan kita untuk go through everything in this life. Do not give up! That's how Eagle flies!

24 March 2016

World VS Word

Semua anak Tuhan punya kelemahannya tersendiri dan iblis punya berbagai jurus untuk menyerang setiap kepunyaan-Nya, tapi jangan sedih.. Tuhan kita Tuhan yang Maha Kuasa yang dimana setiap jurus apapun akan kalah di bawah kaki Tuhan. But, let me tell you stories about my life yang mungkin bisa jadi kesaksian buat setiap kita.

Saya adalah orang yang mudah digoncangkan melalui pikiran, dalam sekejap di saat saya entah sedang jatuh dalam dosa atau jauh dari Tuhan (dimana dua hal itu biasanya adalah sebab dan akibat), saya akan mudah sekali terserang segala jenis pikiran negatif. Tapi Tuhan tidak pernah tinggal diam dalam mengembalikan saya kepada kebenaran yang sesungguhnya. Tuhan tidak pernah lelah untuk terus mengingatkan saya bahwa yang terpenting adalah apa yang Ia katakan, bukan yang dunia katakan.

World says: ‘I am worthless’
Pikiran ini paling sering menyerang saya, ketika saya sedang jauh dari Tuhan dan saya jatuh dalam dosa, saya akan merasa sungguh tidak berguna. Saya akan merasa percuma semua pelayanan yang pernah saya lalui. Saya akan merasa sangat gagal dan memalukan dan saya akan lari semakin jauh dari Tuhan untuk menghindarkan diri dari-Nya. Suatu kesempatan, ketika saya sedang di Thailand saya berkunjung ke sebuah tempat bernama Gem Factory, disana dijual berbagai jenis permata dalam berbagai bentuk dan ada juga workshop dimana para pengrajinnya sedang dengan sangat teliti mengukir batu-batu permata tersebut menjadi perhiasan yang harganya jutaan dan bahkan lebih tersebut. Usaha yang mereka lakukan tidaklah mudah, diperhatikan dengan seksama, diukir, ditiup, dilas, dilap dan dengan sangat hati-hati diolah sedemikian rupa. Ketika saya sedang asyik melihat cara pembuatannya, tiba-tiba ada suara di hati saya yang berkata dengan lembut, ‘this is how I made you’ dan saya langsung tahu itu Tuhan yang berbicara dan tiba-tiba saya diliputi perasaan dikasihi yang membuat saya ingin menangis.

Word says: ‘You are wonderfully made’
For you created my inmost being; you knit me together in my mother’s womb.
I praise you because I am fearfully and wonderfully made;  
Your works are wonderful, I know that full well.
(Psalm 139:13-14)

Melihat bagaimana hati-hatinya para pengrajin tersebut mengukir batu-batu menjadi perhiasan yang berharga membuat saya menyadari bahwa, kalau pengrajin tersebut saja begitu hati-hati dengan batu tersebut, apalagi Tuhan. Betapa sungguh-sungguh terjadi apa yang dikatakan Daud dalam mazmurnya bahwa Tuhan menenun (knit) setiap kita, dan jika perhiasan tersebut yang dibuat tangan manusia saja harganya luar biasa mahal, apalagi kita yang dibuat oleh tangan Tuhan, tangan yang sama yang membuat pelangi, senja dan aurora, Ia Tuhan yang sama yang menenun kita dan masa depan kita.

World says: ‘I have no talent’
Saya adalah orang yang senang stalking orang lain di dunia sosial media, terlebih di instagram yang memudahkan setiap kita untuk melihat kehidupan orang lain dan tidak jarang rasa ‘ingin menjadi mereka’ pun muncul. Seringkali saya terhenti di account-account instagram para wanita-wanita kece yang multitalented, cantik dan kerjaannya foto di berbagai belahan dunia. Percayalah bahwa di instagram, jenis wanita-wanita ini mudah ditemukan. Kemudian secara tidak sadar saya jadi tidak bersyukur dengan diri saya, saya jadi membandingkan diri saya dengan mereka dan saya ingin menjadi mereka. Ketika kita mulai membandingkan diri kita dengan orang lain, disitulah iblis mulai masuk ke dalam pikiran kita dengan segudang jurus negatifnya bahwa, Tuhan tidak adil.. Mengapa mereka cantik, berbakat dan saya tidak? Mengapa mereka begini dan begitu sedangkan saya tidak?

Word says: ’Everyone has their own gift’
‘For it will be like a man going on a journey, who called his servants and entrusted to them his property. To one he gave five talents, to another two, to another one, to each according to his ability. Then he went away. He who had received the five talents went at once and traded with them, and he made five talents more. So also he who had the two talents made two talents more. But he who had received the one talent went and dug in the ground and hid his master's money..’
(Matthew 25:14-30)

Tuhan memberikan kepada setiap orang talentanya masing-masing, bakatnya masing-masing. Masalahnya adalah, apakah kita mengasah dan menggunakannya? Seringkali dari kita ketika diberi kepercayaan tertentu selalu berpikir bahwa kita tidak bisa, orang lain pasti dapat melakukannya. Tanpa sadar sesungguhnya kita sedang seperti hamba yang diberikan satu talenta yang kemudian menguburkannya di dalam tanah. Perlu dipahami bahwa setiap orang memang diberikan kapasitas talenta yang berbeda sesuai kapasitasnya, respon hati kita akan menentukan tindakan kita. Mungkin ada orang yang memiliki begitu banyak bakat, namun Tuhan sesungguhnya tahu bahwa ia dapat memakai dan mengatasinya, namun ada juga orang yang memiliki begitu banyak bakat sehingga ia menjadi terkenal dan tidak dapat mengatasi dirinya dari jeratan harta, kekuasaan dan kepopuleran yang justru membuat ia jatuh. Tentu Tuhan tidak ingin ini terjadi pada anak-anakNya, maka ketika Ia memberikan talenta kepada setiap kita, Ia memberikannya sesuai kapasitas yang dapat kita tanggung. Bersyukurlah dan asahlah sehingga kita terus berbuah.

World says: ‘God doesn’t care about you’
Suatu ketika saya sedang pulang dari kampus dan bergegas menuju ke gereja untuk pertemuan doa. Saat itu jam pulang kantor dan kampus saya berada di tengah-tengah kota yang sangat sibuk di jam tersebut. Bunyi klakson mobil dimana-mana, motor lalu lalang sembarangan, bahkan tempat saya berdiri pun dilalui oleh motor-motor. Angkot yang saya tunggu tidak juga datang, taksi dan ojek pun tidak lewat sama sekali. Saat itu saya kesal luar biasa, saya berkata kepada Tuhan bahwa saya ingin ke gereja untuk pertemuan doa, kenapa Tuhan tidak memudahkan segalanya, toh saya akan ke gereja untuk melayani Engkau. Saya merasa Tuhan tidak peduli dengan keadaan yang sama alami, kalau Dia peduli pasti Dia sudah menyediakan segala sesuatunya sehingga saya tidak perlu susah payah berada di tengah-tengah hiruk pikuk tersebut.

Word says: ‘I know even the little things, and I care’
Indeed, the very hairs of your head are all numbered. Don't be afraid; you are worth more than many sparrows.’
(Luke 12:7)

Tiba-tiba ada suara sangat lembut di hati saya ‘kasih karunia-Ku cukup bagimu..’ Saya shock, mencoba memahami apakah itu suara hati saya, namun tidak mungkin saya yang sedang emosi bisa berkata seperti itu di dalam hati. Tentu itu Tuhan yang dengan lembut mengingatkan saya. Mendadak saya merasa bahwa Dia peduli dengan segala sesuatunya, Dia peduli dengan apa yang terjadi dalam hidup saya, sekecil apapun itu kelihatannya. Kalau Dia tahu berapa jumlah helai rambut setiap kita, itu berarti Dia mengetahui hal-hal detil dan kecil yang terjadi dalam hidup kita. Kalau Dia bahkan tahu berapa jumlah helai rambut kita, jelas menandakan bahwa Dia peduli dengan segala sesuatu mengenai kita.

World says: ‘I misheard God’
Pernahkah kamu merasa, ketika janji Tuhan yang pernah kamu terima beberapa tahun silam tidak kunjung terjadi, kamu mulai meragukan Tuhan. Kamu meragukan bahwa apakah dulu kamu benar-benar mendengar suara-Nya, atau itu hanya angan semata? Saya pernah mengalaminya. Saya merasa Tuhan ingin memakai saya di bidang media, saya dengan sangat yakin merasa bahwa itu janji-Nya. Tahun demi tahun berlalu, berbagai media sekuler yang saya apply tidak kunjung berhasil, saya ditolak untuk entah keberapa kalinya sampai kemudian saya hopeless dan saya mulai meragukan apa yang saya dulu pernah imani dan yakini.

Word says: ‘My promises, yes and amen’
‘Not a single one of all the good promises the LORD had given to the family of Israel was left unfulfilled; everything he had spoken came true.’
(Joshua 21:45)

Janji-Nya bukan tidak terpenuhi, janji-Nya bukan tidak jadi, namun kita yang mungkin tidak sabar dan salah mengintepretasikan janji-Nya. Misalnya saya yang yakin bahwa saya akan dipakai di dunia media, di benak saya, saya akan menjadi orang hebat di dunia media sekuler, saya akan bekerja di sana, saya akan dipromosikan oleh bos dan sebagainya. Tapi mungkin di benak Tuhan, ia ingin saya berada di media rohani dimana saya menulis untuk memuliakan Tuhan, menulis Firman Tuhan dan menjadi berkat di media, rohani. Janji-Nya selalu iya dan amin, hanya saja apa kita sungguh-sungguh dapat memahami rencana-Nya, atau kita punya agenda sendiri dan ingin janji-Nya versi keinginan kita yang terjadi?

Bayangkan apa yang akan terjadi jika saya tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tertulis dalam Firman Tuhan ketika saya diserang dengan pemikiran-pemikiran dunia? Bayangkan jika saya tidak pernah membaca kebenaran-Nya. Tentu saya tidak akan berada di tempat dimana saya berada saat ini, mungkin saya sudah berakhir di penjara karena melakukan tindakan kriminal, atau saya berada di dunia entah berantah atau bahkan hanya tersisa nama saya di dunia ini karena saya menyerah dengan keadaan tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Inilah kegunaan ‘belt of Truth’ alias ikat pinggang kebenaran. Dengan mengetahui kebenaran yang sejati yang terdapat dalam Alkitab, kita tidak akan ‘kedodoran’, kita akan terus siap siaga dan berdiri teguh layaknya orang yang memakai ikat pinggang yang kencang dan kuat.


*artikel ini pernah dimuat di www.majalahpearl.com edisi April - Mei 2015*
*dalam rangka terlalu sibuk, jadi copy paste dari apa yang pernah gue tulis tahun lalu* 
HEHEHEHEHE SEEYOU!

27 November 2015

All Christianity is About.

“Dad, is ghost exist?”
Beberapa hari lalu gwe makan bakmie di sebuah resto deket rumah, karena lantai 1 nya penuh, gwe diarahin ke lantai 2. Di lantai 2 cuma ada 1 keluarga yang lagi makan, parents with 2 children yang masih kecil. Anak pertamanya cewek umur 9 tahun kira-kira dan yang kecil, cowok umur 6 tahun-an. They described a happy family. Lagi makan dan ngobrol seru banget, without gadget in their hands. Bener-bener menikmati lunch timenya.

Gwe sama adek gwe kebetulan duduk di samping meja mereka dan pembicaraan seru mereka pun sampai di kuping gwe.
“Dad, is ghost exist?”
Anaknya kayaknya sekolah di sekolah international karena ngobrolnya campur aduk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
“Can you see it?”
Bokapnya nanya.
Wah, seru nih. Sambil pesen makanan, kuping gwe makin terbuka lebar buat dengerin obrolan mereka. 

“Nope, but my friends say they see ghost.”
“Can they prove it?” Bokapnya nanya lagi.
“If I say, I just saw a ghost, do you believe me? Kalau Dad bohong, bisa-bisa aja kan?”
Anaknya bengong sambil mikir denger penjelasan bokapnya.
“There’s no such thing as ghost. And also God.”
*untung makanan gwe belom keluar, jadi gwe gak keselek*

Dede gwe udah semangat bener ngupingnya, he literally ngeliatin meja sebelah sampe perlu gwe omelin dulu biar kupingnya aja yang nimbrung, matanya kagak.
“If you can’t prove it that they are real, then there’s no such thing as ghost or God.” Jelas bokapnya.
“But my teacher says kalau ada ghost, we pray then ghost-nya ilang.” Kata anaknya polos.
“Coba sekarang you pray to God minta sepeda, then you open your eyes, sepedanya ada nggak?”
Anaknya lagi-lagi bengong. Gwe rasanya pengen pukpuk-in anaknya sambil ngomong, ‘don’t stop believing.’ Tapi takut ditimpuk bapaknya pake sepeda. Wkekekeke.
Terus nggak lama bokapnya pergi ke lantai 1, gwe penasaran sama reaksi nyokapnya soalnya daritadi nyokapnya diem aja. Eh, terus nyokapnya ngomong,
“Makanya lain kali kalau orang cerita apa, jangan langsung percaya ya..”
Yah, sepaham ternyata nypkap sama bokapnya. Nggak lama keluarga itu kelar makan dan pulang meninggalkan gwe yang tiba-tiba merasa si bakmie nggak seenak biasa.
Then gwe mikir, how to prove the existence of God ke orang-orang yang punya prinsip, ‘if you can’t see it, then there’’s no such a thing.”
…..
Terus gwe keinget sama film Narnia, how that film describes Christianity. Pas Lucy discovered lemari dan Narnia, no one believes at her. Dan simple, yang nggak percaya nggak bisa lihat. Cuma yang percaya yang bisa masuk ke lemari itu dan nembus ke negeri Narnia.
Is that all Christianity is about? Believe.
If you don’t believe, then you can’t see anything, can’t feel anything.
Misalnya, kita nggak percaya ada bintang di langit sana, maka yang kita lihat di malam hari, kita anggap planet, or apalah.
Kalau kita dari awal nggak percaya Tuhan, we deny all things yang padahal Doi yang bikin. Kalau kita nggak percaya Tuhan, kita anggap bumi tercipta karena benturan apalah itu. Kalau kita dari awal nggak percaya Tuhan, kita anggap semua kenikmatan yang kita dapatin karena usaha kita. Kalau dari awal kita nggak percaya Tuhan, kita anggap semua harta kita karena orang tua kita yang bekerja semaksimal mungkin.
…..
Satu hari, my friend asked me setelah dia certain baaaanyak banget masalah hidup yang dia alami selama ini.
“Tuhan tuh kemana aja ya selama ini?”
She left me speechless that day. But then gwe keinget pemikiran gwe di atas itu.. Kalau kita nggak percaya, kita pasti udah deny from the first step yang bikin kita nggak ngelihat apa-apa.
Kayak si kakak-kakaknya Lucy yang dari awal udah nggak percaya sama Lucy dan Narnia di balik lemari, they found nothing.
…..
Kalau kita percaya Tuhan ada, kita tahu meskipun things get rough, Tuhan ada di samping kita. Meskipun kesannya Dia nggak berbuat apa-apa, tapi kita PER-CA-YA Dia sebenarnya peduli dan sayang sama kita. Though nggak bisa dibuktikan dengan teori ilmiah atau kadang nggak bisa dibuktikan dengan kasat mata, but we believe anyway.
Kalau kita percaya Tuhan ada, kita tahu,
Mas-mas yang barusan kasih kita duduk di saat kita capek banget di busway itu cara Tuhan peduli sama kita.
Tante-tante yang tiba-tiba nawarin roti di saat kita lagi super kelaperan nunggu bus itu cara Tuhan peduli sama kita.
Teman yang tiba-tiba telepon jam 1 pagi di saat kita sedih dan nanya kabar kita, itu cara Tuhan peduli sama kita.
Teman yang bawain makanan di saat tanggal tua dan duit kita udah menipis, itu cara Tuhan peduli sama kita.
Dan segudang cara lainnya yang Tuhan buat sebagai bentuk Dia peduli dan care sama kita.
Kalau kita percaya Tuhan ada, kita tahu, yang orang  lain bilang sebagai kebetulan, itu cara Tuhan peduli sama kita.
Kalau kita percaya Tuhan ada, kita tahu, yang orang lain bilang musibah dan cobaan, itu cara Tuhan bentuk kita menjadi sesuatu yang kita juga nggak tahu, tapi kita tetap percaya
…..
“Kok lo mau sih percaya padahal nggak ada bukti ilmiah atau lo sendiri bahkan nggak bisa lihat?”
“Because that’s all Christianity is about, you have to BELIEVE. By believing, then you’ll see.”

Then Jesus told him, "Because you have seen me, you have believed; blessed are those who have not seen and yet have believed." (John 20:29 NIV)

*currently listening to He Will Not Let Go by Laura Story*

09 August 2015

Role as a Church.

As a church, what's in your mind ketika melihat ribuan anak-anak muda di satu tempat besar?

Sometimes somehow, pas gwe lagi ada di kerumunan anak-anak muda di satu event, misalnya konser Hillsong atau Planetshakers gitu, pengen banget rasanya ada yang kotbah dan bilang 'kalian nggak boleh lagi ngerokok, nggak boleh lagi freesex, nggak boleh lagi mabok-mabokan karena your body is God's temple.' But you know what, beberapa waktu lalu pas lagi ngobrol sama temen gwe about LGBT, hypergrace (doktrin yang percaya keselamatan nggak bisa hilang, no matter what), dan issue-issue yang lagi hot-hotnya di gereja-gereja, we realized that somehow church's role is not to teach what is right and what is wrong.

Seringkali sebagai gereja kita hobi buat ngajarin apa yang salah apa yang bener. Mendidik jemaat untuk ikut doktrin ini, ikutin pemahaman yang ini, udah pokoknya ngikut aja ngerti nggak ngerti. Gereja hobi banget kekeuh buat suruh jemaat ikutin mana yang 'bener', dan buang jauh-jauh mana yang 'salah.' I'm not saying ini nggak tepat. But somehow yang tiba-tiba popped up in my heart, 

The main role of a church is to bring God's Presence to the room so people can experience personal encounter with God.

Percuma pendeta teriak-teriak di atas mimbar bilang kalau selingkuh itu dosa. Freesex itu dosa and so on. Yaa mungkin jemaat bakalan cuma merasa tertohok sesaat, tobat selama seminggu terus minggu depannya ngulangin hal yang sama. Itupun kalau jemaatnya yang agak 'bener', atau lebih parah sekalinya pendeta kotbah gitu, jemaatnya sakit hati dan nggak balik lagi ke gereja. Again, i'm not against that kind of sermon.

Tapi this what God reminds me, perannya gereja, perannya kita adalah untuk bawa hadirat Tuhan, being God's presence jadi Tuhan sendiri yang touch each person dan BOOOM! Repentance happens. Kadang kita terlalu fokus sama technically things and put aside the spiritual things. 

Percuma kita fokus sama doktrin ini itu, teori ini itu, teknik ini itu, program ini itu kalau kita gagal bawa hadirat Tuhan ke sekitar kita. Jemaat atau orang-orang nggak akan experience turning point kalau mereka gak ketemu langsung dan ngalamin Tuhan secara personal. This post is just a reminder for myself. Percuma kita berusaha kasih tahu seseorang mana salah mana bener kalau kita gagal jadi His Presence carrier. 

And as I write this post, this verse came to my mind,

"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya." (Mazmur 24:3-4a)

Kalau kita aja masih belom bersih tangannya dan murni hatinya, how can kita berharap orang-orang sekitar kita bisa ketemu Tuhan dan ngalamin Tuhan while kita gagal jadi His Presence carrier. Mostly people see what can be seen before they believe on the unseen. They see us as cerminannya Tuhan. 

'Orang Kristen kok kayak gitu?' kalau kita masih diginiin sama orang-orang sekitar. Buru-buru deh kita yang bertobat sebelum tanpa sadar keep people away from God Himself. So whoever you are, a worship leader, a singer, an event coordinator, a musician, atau belom pelayanan but you are a Christian. Remember that our main role is not teach people what should they do, but to be a God's Presence carrier. Because when there's His Presence, there's healing, there's repentance, there's miracle.


*currently listening to Covered - Planetshakers


Tentang kesepian.

Believe it or not, gwe dulu orang yang gampang banget merasa kesepian. Sekitar pas gwe masih SMA, gwe bisa yang malem-malem felt so alone and lonely dan gwe cuma bisa nangis gak jelas, atau cari temen msn-an (dulu zaman msn sish) dan kalau nggak ada, gilee bisa super lonely banget.

Weird, tho?

Tapi ternyata gejala ini dialamin sama hampir semua anak muda. Beberapa temen sempet cerita ke gwe dan yang gwe tangkep, they feel lonely somehow. Even yang keliatan dari luar super happy dan jadi 'badut' temen-temennya. They too feel lonely. Tadi temen gwe cerita ada anak temen bokapnya yang bunuh diri. Padahal dari tampilan luarnya, he seems okay dan ceria. Miris. Yep.

Praise God gwe sekarang udah gak kayak gwe yang dulu. Gwe nggak lagi mewek di tengah malem karena merasa kesepian dan gak punya temen, sok-sok merasa gak ada yang peduli sama gwe. One thing I realize, manusia memang diciptain dengan satu kekosongan yang emank cuma bisa diisi sama kasihnya Tuhan. 

Makanya banyak orang yang punya harta berlimpah then decided to end their life dengan cara bunuh diri. Banyak artis populer yang meninggal karena bunuh diri dan drugs karena merasa lonely. Seceria apapun orang itu keliatannya, seberlimpah apapun hartanya, semewah apapun hidupnya, if they don't have Jesus in their life, they will experience that loneliness. 

Gwe yang lahir dari keluarga Kristen dan sekolah minggu dari sebelum gwe bisa ngomong aja dulu masih kelilit rasa kesepian. Apalagi for those yang belom kenal Tuhan. But the point is, bukan masalah loe kenal Tuhan apa enggak. More than that, do we really believe in Him and put Christ in our heart?

Enggak, Tuhan nggak egois buat nyiptain manusia buat nggak bisa hidup tanpa Dia. Tapi sama seperti handphone yang secanggih apapun tetep butuh listrik buat nge-cas, manusia juga gitu. 'Sehebat' apapun, tetep butuh SADAR dan connect sama kasih Tuhan buat tetep hidup. Apa berarti si Steve Jobs egois karena bikin handphone yang harus di-cas? Nope. Emank dasarnya kayak gitu, everything needs something buat 'menghidupinya'. Gak bisa cuy hidup sendiri begitu aja. Pohon butuh matahari, printer butuh tinta, mobil butuh bensin dan indomie butuh telor (heheee), but you get the point, didn't you?

Semua butuh bergantung akan sesuatu. Dan manusia, butuh bergantung sama sumbernya, Kasih Tuhan. Tanpa sadar kalau kita sesungguhnya dikelilingi kasih Tuhan, kita mati cuy. Entah mati beneran karena depresi, atau mati rohani. Sekarang gwe udah sadar kalau gwe butuh kasih Tuhan. That's why sekarang tiap kali the melancholy feelings come, gwe langsung cari kasih Tuhan. Btw, bukan berarti kasih Tuhan itu adanya mati-nyala loh, cuma manusia-nya aja yang harus sadar.

Gimana buat gwe sadar kasih Tuhan? The simplest thing I do adalah dengan pasang lagu rohani dan nyalain aja berulang-ulang. Kadang ada lagu-lagu yang kayaknya nyangkut di hati dan otak gwe, then gwe cuma dengerin lagu itu berulang-ulang. Atau, dengerin sermon, baca buku rohani dan yang paling penting, baca Alkitab.

Those simple things yang bisa bikin kita inget lagi kalau kita dikelilingi kasih Tuhan dan percaya deh. Secara bertahap those feeling of loneliness disappear. Sama kayak hape kalau lagi low-bat dan di charge. 

So each time, we feel lonely and alone, mungkin itu tandanya kita lagi low-bat dan butuh di-charge lagi. Don't run away, jangan cari penghilang rasa kesepian di tempat yang nggak tepat. If you feel lonely, jangan cari di tempat clubbing, jangan cari di drugs dealer, jangan juga ngebet punya pacar dengan pemikiran kalau punya pacar nggak bakal merasa kesepian karena ada yang temenin mulu. Run to the Source of Love itself. Punya pacar atau enggak, nggak menentukan loe kesepian atau nggak. Trust me (eyaa kayak punya pacar aja). Really, run to Him. Gak tau gimana caranya? Through those simple ways. Dengerin lagu rohani, muji nyembah. Baca Alkitab, baca buku rohani, dengerin sermon, dateng ke gereja. And somehow, loneliness is a siren that God misses you so much and He longs to have your attention back to Him.



*currently listening to Like A Fire-Planetshakers*

12 July 2015

Irony of Acceptance

Few weeks ago, ada satu kabar yang menggemparkan dunia. Yes, pelegalan gay 'right.' Diperbolehkan pernikahan sesama jenis yang memicu pro dan kontra. I won't talk about this topic in details karena for me, I'm on the contra side to the things yet I still love the people (cause i have some gay friends) but I love them enough to tell them that........ that's not excusable. Well, yang mau gwe omongin di sini adalah, people try so hard to be accepted. Dengan adanya hukum yang melegalkan itu, 'mereka' merasa diterima dan diperlakukan 'adil'.

Then I realized how important the feeling of being accepted. Diterima, diperlakukan adil, dianggap. These are the most essential thing for many people, I assume. Then most of people try so hard to fit in, we try so hard to fit in. We try so hard to feel accepted, we try so hard to receive approval from people.

We dress up, we make up, we post instagram-able pict on Instagram, we post many 'cool' moments on Path, we hang out to the fancy cafe, we use high-tec gadgets, and so many things we do actually in the pursue of accepted. Ketika kita merasa nggak diterima, merasa diperlakukan nggak adil, merasa dicuekin, we upset. We disappointed, we hurt. 

Ironisnya, kita mencari penerimaan di dunia yang sementara. Oke, tahun ini kita pake iPhone 5 dan kita 'diterima' oleh society. 5 tahun kedepan, we have to change (again) in order to be accepted. Kita berlomba dengan perubahan yang ada untuk bisa diterima. Sedihnya, kita salah cari penerimaan. While in fact, we have already accepted by the One who created the earth. So why on earth we try to be accepted in the eyes of people?

Kenapa kita harus ngelakuin banyak hal untuk bisa fit in dan diterima ketika kita udah jaaaauh diterima apa adanya sama Tuhan and we were born to set apart, live sacred life, not to fit in. 

"Kok lo mau sama dia?
"Karena dia nerima gwe apa adanya?"
"What? Dia maksa lo buat kurus, dia maksa lo buat make up kalau lagi pergi sama temen-temennya, dia maksa lo buat pake high heels, itu yang lo maksud 'dia nerima gwe apa adanya'?

"Ma, aku pengen iPhone.."
"Buat apa dek? Kamu kan udah ada hape.."
"Tapi kurang canggih ma, temen-temen aku semua pakenya iPhone.."

Pernah ngalamin atau denger kisah sejenis ini? Dengan alibi 'nerima gwe apa adanya,' then kita iya aja sama apa yang terjadi, apa yang kita alamin even kalau itu sebenarnya buruk. Kita ngebet ikutan pake gadget paling hits tapi mahal cuma karena 'semuanya juga pake.'

Gwe geregetan menyadari kalau ternyata kebanyakan masalah yang menyangkut tentang perasaan dan ke-humanity-an itu berasal dari keinginan dan kehausan untuk diterima.

Serius deh, padahal kita udah diterima seada-adanya dan seapa-adanya sama Tuhan. Instead of seeking of human's approval yang syaratnya aneh-aneh dan suka berganti sesuka zaman. Mendingan ikutin terms and conditionnya Tuhan aja yang selalu sama setiap waktu. 

That term and condition tells us that we are accepted always, we are worth and precious in God's eyes and nothing can define our worth unless our Creator Himself. :)

Just believe.

"God, if you are with me, why I experienced this pain?"
"If You guard me all the time, why I suffer?"
"God, if you do love me.. why You let those things happen?"
 .....
 "Kid.. Don't you think I always be with Joseph?"

The LORD was with Joseph so that he prospered, 
and he lived in the house of his Egyptian master. -Genesis 39:2

".. yet Joseph still experienced the suffering. Moments when he were abandoned by his brothers. When he was in the prison, when he was a slave to Egyptian master. Yes, I was with Joseph all those time."
......

"Why? Why if You are with me, I still experienced the pain, the lost, the suffering?"
......
"Because I want to teach you things. Happiness and easy things are not the only proof that I am with you. In those unhappy moments, I want to tell you that I still be with you. That's how you learn, that's how you grow."

In the same way I will not cause pain
without allowing something new to be born,” says the Lord. -Isaiah 66:9 (NCV)

"Just believe.. That everything happens for a reason and all things work together for your goodnes, kid."

*dalam rangka pembelajaran pasca kehilangan iPhone karena dicopet di kopaja :")  

07 April 2015

The pattern of lie

The biggest depression is when I can't feel God's presence
The biggest lie is, satan telling me that happen because He doesn't love me
The biggest weapon of satan is making me so lazy to read the Bible and the Truth in it,
because,
It's the only way I can resist the temptation and back to His presence

See the pattern?

Beberapa waktu lalu di kebaktian, ada seorang pendeta yang berkotbah tentang Sabbath, most Christian people here apalagi yang dalam naungan GBI, :p we all know kita lagi memasuki tahun Sabbath, tahun dimana kita harus rest sama Tuhan, cuma ngandelin Tuhan. But you know what, tahun Sabbath itu juga tahun peperangan rohani, pendeta itu ngingetin gitu.

Dia kasih tau gimana waktu Yesus berpuasa ke padang gurun, Dia kesana untuk cuma cari Tuhan dan ngandelin Tuhan, waktu itu Yesus gak ngapa-ngapain selain cari Tuhan dan hal itu disebut juga sebagai Sabbath. Dan tahu apa yang terjadi, iblis dateng buat nyobain dan godain Yesus. Inget apa yang Yesus lakuin buat ngusir? Dia ngusir pake ayat-ayat Firman dan akhirnya iblis nyerah dan pergi.

Belakangan ini saya sedang merasa sering digodain iblis dalam banyak hal, emosi, pikiran, perasaan, semua digodok buat dibawa jauh sama Tuhan. Dan secara fisik, jadi mallleeees banget baca Alkitab. You know that~ Kalau lagi 'jauh' dari Tuhan, pengennya ngejauh juga dari Alkitab, gereja, dan lain sebagainya kan. Dan *jleb*, all these make sense. Melalui pendeta itu gwe diingetin satu pola cara kerjanya iblis yang gampang banget bikin kita tumbang. 

Pertama bikin kita merasa kesel, emosi, kecewa dan depresi sama Tuhan, terus si jelek itu bilang kalau that happen because Tuhan gak peduli sama kita, kita kebanyakan dosa or whatever terus kita jadi males baca kebenaran dan voila~ kita makin jauhhh jauhhh jauhhh dari Tuhan. 

While sebenernya yang kita butuhin adalah whatever the situation is, keep pursuing God. Kayak Yesus pas di padang gurun dan puasa, Dia super kelaperan dan iblis ngegoda dengan suruh ubah batu jadi roti. mungkin saat itu pake tambahan 'Tuh, Bapa gak peduli sama lu Sus, sana bikin roti aja sendiri, kan lu jago bikin mukjizat' Bayangin kalau saat itu Yesus jadi super melankolis trus galau 'iya ya, buktinya gwe dibiarin lama gini dan kelaperan' trus Dia ngubah batu jadi roti. Duh~ gak kebayang ada dimana kita saat ini.

Tapi engga, Yesus keep on the track, tetep gak peduli sama ocehan si iblis dan bahkan dilawan pake Firman Tuhan. Bayangin kalau waktu kita digodain iblis, kita gak punya senjata buat lawan mereka, alias gak punya Firman Tuhan di hati kita, ya wassalam~

So, i'm not saying i'm the best in this kind of thing. Tapi yuk sama-sama juga balik sama Tuhan wherever we are now. Alkitab di samping ranjang yang udah berbulan-bulan gak disentuh, yuk mari malem ini coba dibaca. I think God long to speak to you tonight. 

For God so in love with you that He gave His beloved only Son to redeem you, who TRUST in Him. So you no longer be a slave of sin, no longer slave of fear but a child of the Most High and you will love with Him, forever and ever. (John 3:16 My Version :p)

Happy Passover!

31 October 2014

The Importance of Mentorship

Some people I know pernah berpendapat bahwa mereka gak setuju dengan adanya sistem mentor-mentoran, entah karena gak suka 'diatur' (atau mungkin lebih tepatnya diarahkan), atau juga karena mereka takut suatu saat 'ditinggal' ketika sudah terlalu attached. When I dig deeper, mereka semua punya reason dibalik pendapatnya itu. Ada yang pernah mengalami kisah yang gak mengenakan dengan mentornya, kecewa, marah, dan sakit hati yang berujung dengan mereka ogah lagi dengan sistem-sistem mentorship.

Gwe, punya 1 mentor. Have known her since 2009, lewat retreat youth yang waktu itu out of nowhere tiba-tiba gwe joined, dan dari sana, gwe rasa 'U-turn' gwe happened. Gwe yang zaman itu lagi super cengeng-cengengnya, berasa alone and lonely most of the nights, zaman itu gwe yang bisa gila-gilaan sama temen-temen, and ten minutes later bisa keluar kelas (zaman itu masih SMA), dan tiba-tiba bisa galau karena merasa super lonely. 

Sejak September 2009 itu, karena doi mentor gwe pas retreat dan akhirnya terus saling berhubungan even setelah retreatnya kelar, gwe mulai aktif dateng youth dan lama-lama mulai bener-bener attached to her. Imagine this, the lonely one who long for a sister for a loong looong time, terus tiba-tiba ketemu satu sosok sister yang dearly, yang physically and spiritually pretty, bayangkan what happened that days? Yes, over sensitive and possessive about her. Not in weird dan aneh-aneh posesif segala macemnya, tapi in a way seorang anak labil yang merasa udah punya sesuatu yang dia pengenin dan kejealousan datang ketika sesuatu yang udah dia miliki sekarang dipinjem sama orang lain. 

Time flies, and praise God i've learnt so many things. Gwe belajar lebih dewasa, time goes by dan semenjak 2009 itu, I grow deeper in God, somehow semakin mengerti dan memahami plansnya Tuhan, divine purposenya Tuhan, semakin mengerti gwe tuh diciptain gak buat gwe doank dan don't waste time untuk mikirin daging dan ego sendiri. 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014.. all times passed by, banyak banget struggle yang dilalui, banyak masalah yang dihadapi, bahkan sering banget jatuh di masalah yang itu-itu melulu. Bahkan di satu titik gwe pernah sick of myself dan mau give up kabur ke hutan (nyehehe). Setelah melewati tahun-tahun tersebut dan sekarang gwe melihat kebelakang, you know what the most thing I grateful for? Selain His Grace and Mercy yang selalu baru setiap hari? 

I grateful for, ketika dalam masa-masa itu, masa-masa gwe merasa lonely alone dan di jalan 'balik' sama Tuhan gwe mengalami jatuh bangun, I grateful for her, my spiritual mentor who didn't give up on me while i was thinking about giving up. I grateful for the ears that never bore to listen, for the heart that never tire to love, grateful for the arms that never too weak to hug me in my dark days. 

Dig deeper about myself, gwe pernah ngalamin semacam 'abandoned' by my mentor zaman gwe masih sekolah minggu, maybe belasan tahun lalu. Someone i look up as my older sister saat itu broke my heart somehow dan made me so upset. Mungkin ini salah satunya alasan kenapa waktu gwe di tahun 2009 itu dipertemukan dengan sosok kakak rohani lagi, somehow i feel attached tapi juga takut yang terlalu attached karena takut sakit hati, lagi. 

Tapi seriusan, seiring berjalannya waktu dan lo semakin dewasa dalam Tuhan lo banyak belajar, khususnya in a relationship. I and her, my current spiritual mentor have TONS of differences. Gwe lebih ekstrovert, dia lebih introvert, itu signifikan difference, sisanya MASIH BANYAK,,, hahaha.. but we have same thing, kita sama-sama well actually, sensitive. Kita sama-sama belajar untuk sometimes menekan ego sendiri untuk bisa get along, belajar untuk membuka diri untuk bisa get through together. Sampai kemarin malam setelah dinner date setelah lama gak bersua, pas gwe dirumah and cuci piring, i was reminded about something..

In a relationship, it is the similarities between you that bring you together, but only the differences keep you rooted stronger. and tonight i realize one thing, sometimes when people don't act as what you expected them to do, it doesn't mean they love you less. They just have difference love language to show.

(yeah, kenapa jadi melenceng kesini)
Inti dari post ini yang sebenarnya mau gwe sampein adalah.... Mentorship itu penting. Terlalu banyak benefit yang bisa didapet dari mempunyai hubungan mentorship sama kakak rohani (or even when you become one, lo juga dapat banyak pelajaran in having adek rohani). Pernah suatu kali, ketika gwe capek banget jatoh dalam kelemahan gwe yang itu-itu lagi, dan pas gwe lagi nangis-nangis curhat ke dia, gwe kayak bilang intinya kayak say sorry to bother her about the same thing over and over again, dan yang dia jawab adalah 'it's okay, i've commited to you' (kurang lebih jawabannya begitu, i forgot). Komit. Hubungan mentoring gak bisa cuma dilandasin perasaan, it needs komitmen. Ketika elo jadi kakak rohani, you need commitment yang enable you untuk tetep stand by their side, even in the darkest one. Ketika elo jadi adek rohani, you need commitment untuk terbuka even ketika lo sebenernya malu untuk ceritain kejatuhan lo, masa lalu lo. One thing for sure, you can't go alone in this world, lo gak bisa jalan sendirian, lo butuh orang yang ngangkat lo ketika lo jatuh, telling you when you're wrong, nasehatin lo ketika lo gak ada pegangan, and for me, all those things summed up in a word, mentor.

Beda dari temen-temen yang sometimes cuma bisa diajak happy-happy, beda dari temen-temen yang meski lo salah malah ikut ngedukung dan gak berani arahin lo ke track yang bener, beda dari temen-temen yang cuma bisa diajak ngobrol masalah-masalah seru. Mentor leads you to the Truth, to the Christ. Mentors are not perfect, as who you are. Tapi somehow you really need a mentor. 
If you haven't had one, try to find one. The one you can look up to, the one you trust, the one you see Christ in them, the one you know how they behave daily. Don't forget to pray to God, and still, don't put your hope in human, however keep in mind that only Christ never fails. One day if they fail you, you'll learn about forgiveness and compassion and love.

If you have one, embrace him/her, pray for them, thank God for them, don't take them for granted, support them as how they support you.

Now if you have a mentee, i'm telling you, don't give up. Keep loving, keep standing beside him/her, keep praying for them. You will never know how much you mean to them. Even when you're tired of listening the same failure they face, just don't give up on supporting them. Remember that you used to be on their position, and how you need encouragement that day, it's how they're feeling right now. 

If you have a mentor and somehow you want to have a mentee, well, you should pray to God as He will reveal the right person to you in the right time. If you haven't grown mature enough in Him, you won't be able to lead the other person.

If either of them falls down, one can help the other up. But pity anyone who falls and has no one to help them up. Ecclesiastes 4:10 
*currently listening to Start A Fire by Unspoken*

05 September 2014

Safe vs Secure

"No one assure walking as Christian will be a safe journey to go, but it surely SECURE because God is within you." 

Seperti Daud yang berani untuk nantangin Goliat, it's not a safe decision, it's a suicide decision for most of all the people but not for David. It's not safe, but David felt SECURE in God because he knows God is fighting for him.

1 Samuel 17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

Seperti kisah Gideon melawan musuhnya hanya dengan 300 tentara, seperti kisah Yusuf untuk beranjak mencapai janji yang Tuhan kasih buat dia, seperti kisah Musa yang disuruh ngadep Firaun untuk bawa Israel pergi, seperti kisah Yosua merebut tanah kanaan dan seperti banyak lainnya kasus di Alkitab yang kelihatannya riskan dan gak aman, tapi cuma satu kesimpulannya yang sama yang dilakukan oleh semua tokoh tersebut, they just have the fully obedience and be secure in God because they all know God is with them.

Is God telling you something to do, something to say, somewhere to go which seems not safe for you, which seems illogical for you? What will we choose? Safety? or Secureness in God? If we're looking for safety, we might end up pleasing people, pleasing ourselves, pleasing our ego, pleasing our comfort zone. But if you choose secure, you will not care about what people think and say as long as you just want to obey what God tells you.

ps: currently listening to 'the more I seek You' by Steffany Frizzel

25 August 2014

Ilalang vs Gandum

"Liat hidupnya si itu, dia hidup seneng-seneng, percaya Tuhan aja enggak, kerjaannya cuma main cewek, ngebut-ngebutan, clubbing, kuliah cuma abisin duit.... Tapi hidupnya berlimpah ruah, kaya raya, tiap bulan liburan ke luar negeri, sementara gwe.... Ikut Tuhan, pelayanan, setia, tapi bayar uang kuliah aja harus mati-matian.."

Pernahkah kalian sepintas berpikir begini? Buat apa sih setia sama Tuhan toh temen sebelah kita hidupnya gak segitunya buat Tuhan, bahkan mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi keliatan bahagia.. Hidupnya penuh harta dan sejenisnya. Pernah gak sih? Once in a lifetime pasti kita pernah berpikir seperti itu. I was. 

Kemarin di Youth gwe kedatengan Jose Carol... dan dia kotbahin sedikit tentang gandum dan ilalang. Let's check it out di Matius 13:24-30

Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.

Ilalang melambangkan those who don't believe in God dan gandum melambangkan orang yang percaya sama Tuhan dan melakukan FirmanNya. From those verses, what Jose Carol taught us yesterday adalah:

1. Ilalang dan gandum itu tumbuh bersama. Ketika Tuhan kasih hujan, bukan cuma hujan buat gandum, tapi ilalang juga kena air hujannya.Ketika Tuhan memberkati anak-anakNya, secara otomatis, yang lain juga akan kecipratan berkat dari Tuhan.
2. Tuhan membiarkan gandum dan ilalang itu tumbuh bersama? Why? Karena kalau masih muda, gak keliatan perbedaan yang mencolok antara ilalang dan gandum. So it's like, orang yang keliatannya 'gandum' belom tentu gandum dan orang yang keliatannya 'ilalang' belom tentu ilalang. Do you get what its mean? 
3. Pada waktunya menuai, baru ketahuan mana yang ilalang dan gandum. Dan para ilalang akan dicabut duluan untuk dibuang dan dibakar, dan gandum akan masuk dalam lumbungNya. Alias, pada akhirnya akan dipisahkan ilalang dan gandum. Bagi para gandum, akan masuk dalam lumbungNya alias kerajaanNya..

Through this simple message and revelation, what i got is... Bertahanlah dan tetaplah setia. Meskipun yeah, melelahkan kadang. Tapi reward besar menanti kita di depan sana. Mungkin sekarang masih gak ngerti, masih gak keliatan apa sih bedanya kita dan mereka, masih gak ngeh apa sih maunya Tuhan, but.. heyho.. Mari tetap setia dan tetap berbuah supaya kita jadi gandum yang nantinya akan masuk dalam lumbung-lumbungnya Tuhan. :")

ps: *currently listening to we dance - bethel (again)*
Finally ready now to close my eyes and just believe that you won’t lead me where you don’t go..

05 May 2014

Sunday updated: Re-charged

I always like Sundays, mungkin lebih tepatnya, i always like going to the Church every Sunday, berharap Tuhan ngomong sesuatu through sermon atau 'hanya' lewat His Presence during the praise and worship. Hari ini, lagi-lagi kotbahnya menusuk...... tau tentang apa? When God is silent, when He says NO, and when He seems too late. 

"Keadaanmu tidak selalu berhubungan dengan perasaan Tuhan terhadap kita". Seringkali ketika kita ngalamin banyak masalah, ngalamin stress, ngalamin musibah, kita berpikir itu karena mungkin kita abis ngelakuin dosa, then Tuhan marah, trus kita dihukum, makanya kita ngalamin masalah/musibah itu. But tonight, the preacher told us kalau, kadang Tuhan biarin duri dalam daging kita tetep ada, bukan sebagai hukuman, tapi emank ada maksud Tuhan disana.

Gwe baru ngeh sama ayat ini pas dibaca bareng-bareng pas kebaktian tadi...

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:7-10)

Intinya, si Paulus berharap Tuhan mencabut duri dalam daging dia, tapi Tuhan bilang 'no', dan Tuhan bilang 'kasih karuniaKu cukup bagimu'. Pernah gak sih, ketemu orang yang udah dahsyat banget sama Tuhan tapi ada satu hal dalam diri dia atau keluarganya yang kayak 'duh sayang banget yaa...'.. Let say, si Asep, dia luar biasa banget, misi kemana-mana, cinta Tuhan banget deh pokoknya, tapi dia divonis sama dokter kena kanker stadium 4. As human, kita mikir 'duh, kenapa Tuhan gak sembuhin aja sih?, dia padahal udah segitunya sama Tuhan...'. We name it as thorn in flesh, but God name it 'My Grace is sufficient for you'. As Paulus said, justru dalam 'kelemahan' itu, kuasa Tuhan sempurna.... Susah masuk di akal logika yaa? :") Intinya, apaaa yang jadi masalah kita, apa yang jadi 'duri' kita, apa yang jadi beban kita..... percayalah kalau Tuhan pakai itu buat jadi saluran kemuliaan Tuhan dinyatakan.........

"Hari-hari kedepan, jangan buka celah untuk kecewa sama Tuhan". Jleb. Ini cukup menampar gwe personally. Fyi, gwe abis mm well boleh dibilang, beberapa waktu lalu sempet kecewa sama Tuhan, sempet ngambek, sempet merasa Tuhan pilih kasih, sempet merasa capeeeeeek sekali. Hm, bisa dibilang, dari semua aspek hidup gwe lagi ditarik kapasitasnya sama Tuhan, lagi digenjot, dipoles. Pekerjaan lagi sibuk-sibuknya, keluarga lagi yaaaaaaaaa begitulah, pelayanan lagi luar biasa :""), hati... lagi diperban (lagi dan lagi). Semuanya yang happen in one time bikin rasanya kayak dipress di oven panas. Abis malam-malam dimana gwe protes dan kesel sama Tuhan, lalu tahu sih, gwe yang salah... tau sih, i should see dari kacamatanya Tuhan dan tau all these things happen for my good. 

Dan tahu tidak, kita itu sebenernya dirancang buat gak boleh jauh-jauh dari Perancang kita. Kayak kalkulator yang pake sinar matahari buat nyala, kalau kita kelamaan jauh dari sinar matahari, then we're dying dan lama-lama beneran mati. Dan gwe sadar, all these busyness belakangan bikin gwe jarang spend time sama Tuhan, udah bolong-bolong mulu baca Alkitabnya, doa malem aja udah ngantuk banget dan males. Dan layaknya kalkulator itu, i'm dying... in the spirit. Bawaannya gak stabil, mau marah-marah mulu, gampang kecewa, gampang emosi, and you know what, itu semua karena gwe lagi jauh dari Source of Energy itu sendiri.

When all these things happen, ayoo buru-buru balik lagi sama Tuhan (i'm talking to myself) :") and, look back and remember betapa selama ini His Grace is really sufficient for us. Look back and see His Goodness di setiap jejak langkah kita. Then the most important thing, look at ourselves, look at our circumstances and be grateful. Beberapa waktu lalu sempet wawancara salah satu founder sebuah sekolah, and she said, her principle of life adalah 'mengucap syukurlah, itu yang membuat langkah kalian lebih ringan'. And yes, that's true.

So, apapun yang lagi kita alamin sekarang... seberat apapun, sama-sama belajar, buat put the Faith in our heart and mind kalau all things happen work for Good, jangan kecewa sama Tuhan hanya karena kita belom ngerti big planNya, dan jangan jauh-jauh dari Tuhan yuk :") as simple as just dengerin lagu rohani, close your eyes and sing it from your own mouth and heart, sesimple itu kita kayak ke re-charged lagi.

*a reminder for me*

10 April 2014

How could i not be?

Well, it’s been a while since I posted something on my blog.. huhu.. super tight schedule jadi bikin susah ngeblog… *gayaa bener* sometimes kangen masa-masa nganggur, kerjaannya bangun siang, nonton dvd, baca novel, baca buku, makan, tidur… Sekarang? Bangun pagi pulang malem :”)

Beberapa hari ini lagi up to date sama film-film bioskop *tumbenan*, kemaren itu nonton divergent, Son of God, dan captain America.. bolehlah tiga-tiganya lumayan kece filmnya. What I wanna talk about here adalah film Son of God, it was good. Gak sedramatisir dan se-wah Passion of the Christ sih, tapi di Son of God ini, message-nya sih dapet, filmnya juga lebih enteng dan gampang dicerna, tapi juga bikin jlebb di hati.

One of my favorite quotes di film ini adalah, ketika *agak lupa siapa* kayaknya Petrus ditanya sama orang farisi *kalau gak salah*, ‘why do you follow Him?’ dan Petrus menjawab ‘after all what I see, how could I not be?’. Beh… jawabannya kece banget si Opa Petrus ini..

His answer bikin gwe setelah nonton film itu termenung beberapa saat, iya ya… kalau kita udah ngalamin sendiri sama Tuhan, how loving He is, how great He is, udah pasti we become His follower. I always wondering, just as if I was born that moment, disaat Tuhan Yesus ada di dunia, kira-kira gwe bakal pro atau kontra ya sama Tuhan?

Back to the topic, hm, become a follower of Christ is not a status, not a title, but an experience, an encounter. Gak bisa tuh kita jadi pol-pol-an buat Tuhan kalau kita sendiri gak pernah ngalamin Dia secara personal, gak tau Dia kayak apa, mm lebih tepatnya gak ‘ngeh’ kalau He is our God, our beloved Best friend and Comforter.

Ngalamin? Apa sih maksudnya?

Ngalamin means, realizing that every little thing He gives to us is because He loves us so. Encountering Him means buka telinga kita wider, buka mata kita wider untuk menyadari kalau He loves us. When you know you are loved by the One who died for you, secara otomatis koq kita bakal ngikut Dia, secara otomatis kita bakal don’t wanna hurt His heart. That’s the power of Love. Love will sacrifice itself to see the happiness in someone we love. Kalau kita tahu Tuhan sayanggg banget sama kita, kita gak bakalan semena-mena sama hidup dan hati kita, karena kita tahu our values.

So, when someone asks you, why do you follow Christ? Can you answer them by saying ‘after all what I’ve been through with Him, how could I not be?’

25 March 2014

The Cost.

Sabtu lalu di Youth GBI Senayan City abis kedatengan temen-temen dari opendoors, organisasi yang membela para hamba-hamba Tuhan dan para Christian yang persecuted, yang disiksa, dipenjara, nyaris dibunuh karena iman mereka ke Tuhan Yesus. Yes, at this time yang katanya demokrasi, masih banyaaaak banget koq orang-orang yang gak bisa dengan bebas tell people 'hello, i'm a christian'.

Bukan cuma di luar negeri, tapi di Indonesia juga masih banyaaaak banget orang-orang yang diserang dan dihadang kalau mereka mau ibadah, banyak gereja yang ditutup paksa. And when i was listening to their testimony, gwe termenung dan berpikir....

Harga yang mereka harus bayar dengan keep on sticking to Christ itu mahal banget, disiksa secara fisik, mental juga jadi merosot. But how about us? Kalau kita denger kisah kayak gitu, apa reaksi kita? Paling cuma sebatas kasihan, empati, sending them money and stuffs, dan berdoa untuk mereka. But then selang beberapa menit gwe berpikir, kita juga punya harga yang harus dibayar.

Bukan harga berupa siksaan secara fisik, tapi harga yang harus dibayar untuk keep on sticking with Christ. Contohnya apa? Say 'no' when the world says 'yes'. Pernah gak sih kalian dianggep 'freak', dianggep 'aneh' karena kalian punya satu prinsip yang 'beda' sama yang dunia ajarin? Pernah gak kalian dibully, dicaci maki, dimusuhin, dijauhin karena kalian punya prinsip 'all things i do, i just wanna glorify Him'?

Misalnya, saat semua temen-temen kalian bilang 'it's okay buat dating sana sini, pacaran aja sana sini, gimana tau yang terbaik kalau loe gak nyobain?' what will you do? akhirnya luluh dengan logic mereka yang masuk akal, atau tetap berpegang pada prinsip 'i will date the man/woman God tells me to date'. Atau disaat temen-temen kalian bilang 'gile lo, gak ngerokok gak gaul?', what will you do? Luluh dengan label 'biar dianggep gaul', atau stick to what God says, 'tubuhmu adalah Bait Allah'. Atau disaat temen-temen lo bilang 'woy loe tuh dodol banget sih, udah digituin, udah dikhianatin, udah dianggep cupu, ajak ribut aja itu orang', what will you do? Memutuskan untuk membalas? atau ikutin kata Tuhan, 'forgive', meskipun semua orang ngatain elo, freak.

What will you? In my opinion, that's the cost we should pay, itu harga yang harus kita bayar dengan mengikut Yesus di lingkungan yang aman buat kita beribadah, Iya, kita gak dikejer, gak dimasukin penjara karena percaya Tuhan. Tantangan yang kita hadapi adalah 'dianggep aneh, dijauhin, dianggep freak, dikata-katain sok rohani'. It's all the cost that we should pay.

Masalahnya sekarang, maukah kita membayar harga yang harus kita bayar itu? ;)

05 March 2014

Running out.

Let's imagine..... If one day you die, where will you go? If one day we die, kira-kira apa sih yang bakal Tuhan bilang sama kita... 'is it a 'well done My child...' atau?

Don't say you don't believe in Heaven or Hell... just imagine aja, mari kita berandai-andai seandainya surga dan neraka memang ada (which i believe they indeed exist), where will you go?

Beberapa waktu belakangan ini lagi terus diingetin kalau, waktuNya sudah sudah sudah sangat sangat dekat dengan kesudahan segala sesuatunya.. people might say kiamat, but we, Christian calls it as the Second Coming. Entah percaya atau tidak, tapi memang begitu adanya. Pak Niko bilang, 'saya bilang begini bukan untuk nakut-nakutin tapi memang untuk bikin Anda takut'. hihihihi. Bahkan sampai di titik, kemaren temen gwe randomly ask, 'lo kalau nikah mau punya anak berapa?', dan gwe jawab 3 (dulu pengennya gitu and i'll name them cello, violin, viola) hahaha, but then my deepest heart kayak 'rasanya Tuhan dateng duluan sebelum gwe sempet punya 3 anak as i want'. Segitunya! Gwe lalu jadi serem sendiri.. oke, back to topic.

Just imagine, with the life you live now, where will you go when you die, or.. when He comes?

Percayalah neraka itu not a cool things to go, not a fine place to visit, not a home for you to live forever. Yes, forever. Once The King comes, we will go to our second home, forever. Nah, dimanaaaa kita akan berada? Heaven or Hell? You might find the description about hell and heaven di berbagai websites dan buku, dan oke maybe you don't believe in it, tapi lalu kalau ternyata you wrong and all those things benar adanya, bukankah sudah terlalu terlambat untuk bilang 'oke, now i believe'. 

I don't have enough braveness to shout it loud that My God is coming soon, very SOON! I don't have that courage to tell people directly that seriously, waktuNya udah super dekat, dan bentar lagi we're all judged by the things we do in earth, we're all gonna be judged by the words we speak in this earth, we're all judged. No exception. Gwe masih belom beraniii.. duh. So, i write here so people can read this..... This latest time ini disebut orang sebagai 'Grace Time', ibarat waktu tambahan yang cuma beberapa menit kalau lagi pertandingan bola, dan time outnya tinggal dikit lagi. :")

Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup. -2 Petrus 3:11 

Through this post, i just want to remind me again, and whoever you are, if you still can breathe, it means God still loves you, there's still a chance for you and me to come back again to God, to live the way He wants us to live, to speak, to say, to act as what right according to His eyes. Jangan sampai pas Dia datang, kita kedapatan jadi lagi hamba yang lalai gak lakuin tugasnya, jangan sampai pas Dia datang, kita kayak pegawai yang bolos di jam kerja, jangan sampai pas Dia datang, kita lalai dan all the consequences lead us to hell. No way.... hiy. 

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, -Filipi 2:12

24 February 2014

Stop thinking (too much)

"Gwe sebenernya ditempatin di tempat ini gak ya?"
"Koq kayaknya harusnya gwe gak sekolah disini deh.."
"Harusnya gwe kuliah di luar nih kayaknya, jangan-jangan Tuhan maunya gwe disana"
"Duh, apa gwe salah melangkah ya? Apa harusnya Tuhan maunya gwe bukan disini?"
"Aaah, Tuhan, maunya Tuhan gimana sih? Kalau iya disini, koq rasanya berat banget..."

Pernah gak sih kalian kepikiran salah satu pertanyaan diatas?
Singkat cerita gwe iya, beberapa waktu belakangan ini. Rasanya... Tuhan, bener nih disini? Koq kalau iya rasanya berat banget ya? Kalau iya, koq providence nya Tuhan agak mm minim sih? #kemudiandikeplakmalaikat. 

Mmm lalu kemarin sempat ngobrol dengan seorang kakak rohani dan dia (kurang lebih) bilang begini......

'kalau Tuhan gak mau kamu di tempat kamu sekarang, dengan sekejap dia gampang koq keluarin kamu.. Dengan gampangnya Tuhan bakal pindahin kamu kalau memang Dia mau.. tapi in fact, kalau kamu masih ada di tempat kamu ada sekarang, tandanya Tuhan memang masih mau kamu (diproses) disana. dan lalu, siapa bilang kalau Tuhan memang mau, lalu segalanya jadi mudah? kalau kamu sekarang disini, yaudah lakuin aja dengan sebaik-baiknya yang ada di hadapan kamu sekarang.. Kalau kamu terus-terusan mikir 'kayaknya gak disini deh Tuhan', ya kamu gak bakalan maksimal dengan apa yang Tuhan percayain buat kamu sekarang. Kalau Tuhan mau kamu pergi ke tempat lain, Tuhan pasti akan lakuin koq...'

... *dan lalu berkaca-kaca*

iya sih, kalau Tuhan mau gwe pergi, gwe bakal pergi koq entah gimana caranya. Kalau Tuhan mau gwe stop, gwe akan tiba-tiba diberhentikan koq, Kalau Tuhan mau gwe pindah ladang, gwe akan pindah koq dengan entah gimana caranya Tuhan. Daripada ngabisin hati dan pikiran dengan segala pertanyaan diatas, ada baiknya gwe fokus apa yang ada di depan mata sekarang and do everything seperti buat Tuhan.. :") #okesip

eh terus baidewei kemaren pas di gereja, ada statement bagus dari pendeta (dari Africa), dia bilang gini..

'Seek the ways of God. Jangan cuma maunya see the act of God. Musa ngerti the ways of God. Bangsa Israel cuma taunya the act of God.'

Which i inteprete sebagai, bener banget.. kalau kita cuma taunya act of God, kita bakal nuntut terus untuk liat Dia lakuin segalanya buat kita di depan mata kita. Kita bakal nuntut 'Tuhan, koq gini doank? gak ada mukjizat apa-apa?' tapi kalau kita ngerti ways of God... kita tau principlenya Tuhan, segala sesuatu indah pada waktuNya, kita tau principle of Faith, kita tau even in the midst of storm, Tuhan ada di samping kita.

Belajar mengerti cara kerjanya Tuhan sembari kita belajar untuk have Faith in Him.

15 September 2012

maybe sorry just isn't enough

Kemarin gwe baru denger kabar gak enak, yang bikin bulu kuduk merinding, dan perasaan bersalah dicampur dengan sedih tiba-tiba mengalir deras dalam hati.

seorang teman kembali ke dunianya yang lama karena kecewa sama temennya whom is a christian.

Sedih dengernya. I have no business and problems with this guy, tapi gwe tiba-tiba aja merasa sangat amat bersalah, because i'm part of 'temennya'.

dan semalam, topik ini jadi sesuatu yang hangat dan jadi bahan pembicaraan gwe, dan 2 temen gwe. Betapa egoisnya orang Kristen, berharap banyak jiwa baru yang ketemu Tuhan, banyak jiwa baru yang bertobat, banyak jiwa baru yang nerima Tuhan as their Saviour, tapi kita lupa, temen-temen kita yang basically udah Kristen, kita lupa nanyain kabar mereka, kita secara gak sengaja bikin mereka pait sampai mereka ikut menganggap Tuhan itu sama kayak kita.

Betapa seringnya kita terlalu sibuk sama hal yang terlalu 'rohani' sampai kita lupa kalau kita masih tinggal bersama-sama di bumi,
betapa seringnya kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri sampai kita lupa banyak temen-temen kita yang butuh kita,
betapa seringnya kita mengatasnamakan Tuhan dan gereja dan melukai teman kita sendiri,
betapa seringnya kita berlaku seperti kita yang benar, dan teman kita yang salah,

Tuhan gak gitu.
Dia gak pernah mengecewakan orang lain seperti kita mengecewakan teman kita.

Through this post, gwe, sebagai orang Kristen, sebagai orang biasa yang berusaha ikut steps nya Tuhan, sebagai manusia biasa yang sering melakukan kesalahan,

i deeply truly sincerely minta maaf...
mewakili komunitas gwe, mewakili kepercayaan gwe,
minta maaf sedalam-dalamnya..

bagi mereka yang merasa dikecewakan oleh sikap kita,
bagi mereka yang merasa gak dianggap,
bagi mereka yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orang yang mengatasnamakan gereja dan Tuhan,

..............
satu hal, don't expect on human, even a christian, fail.
But Christ, He never fails.

:)


maaf yah.